MAKALAH SEJARAH INDONESIA
KERAJAAN KOTA KAPUR
Disusun Oleh :
1.
2.
3.
Kelas
X
SMA NEGERI 1
KATA
PENGANTAR
Puji syukur kami
panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya
kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan Makalah ini yang alhamdulillah
tepat pada waktunya yang berjudul “Sejarah Kerajaan Kota Kapur.”
Makalah ini berisikan
tentang Sejarah Kota Kapur. Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari
sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat
membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata, kami
sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan
makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala
usaha kita. Amin.
Semin, ................................
2017
Penyusun
PEMBAHASAN
A. Sejarah
Kerajaan Kota Kapur
Jika dilihat dai hasil temuan dan penelitian tim
arkeologi yang dilakukan di Kota Kapur, Pulau Bangka, yaitu pada tahun 1994,
dapat diperoleh suatu petunjuk mengenai kemungkinan adanya sebuah pusat
kekuasaan di daerah tersebut bahkan sejak masa sebelum kemunculan Kerajaan
Sriwijaya.
Pusat kekuasaan tersebut meninggalkan banyak temuan
arkeologi berupa sisa-sisa dari sebuah bangunan candi Hindu (Waisnawa) yang
terbuat dari batu lengkap dengan arca-arca batu, di antaranya yaitu dua buah
arca Wisnu dengan gaya mirip dengan arca-arca Wisnu yang ditemukan di daerah
Lembah Mekhing, Semenanjung Malaka, dan Cibuaya, Jawa Barat, yang berasal dari
masa sekitar abad ke-5 dan ke-7 masehi.
Sebelumnya, di situs Kota Kapur selain telah ditemukan
sebuah inskripsi batu dari Kerajaan Sriwijaya yang berangka tahun 608 Saka
(=686 Masehi), telah ditemukan pula peninggalan - peninggalan lain yaitu di
antaranya sebuah arca Wisnu dan sebuah arca Durga Mahisasuramardhini. Dari
peninggalan-peninggalan arkeologi tersebut nampaknya kekuasaan di Pulau Bangka
pada waktu itu bercorak Hindu-Waisnawa, seperti halnya di Kerajaan Tarumanegara
di Jawa Barat.
Temuan lain yang penting dari situs Kota Kapur ini
adalah peninggalan berupa benteng pertahanan yang kokoh berbentuk dua buah
tanggul sejajar terbuat dari timbunan tanah, masingmasing panjangnya sekitar
350 meter dan 1200 meter dengan ketinggian sekitar 2–3 meter. Penanggalan dari
tanggul benteng ini menunjukkan masa antara tahun 530 M sampai 870 M. Benteng
pertahanan tersebut yang telah dibangun sekitar pertengahan abad ke-6 tersebut
agaknya telah berperan pula dalam menghadapi ekspansi Sriwijaya ke Pulau Bangka
menjelang akhir abad ke-7.
Penguasaan Pulau Bangka oleh Sriwijaya ini ditandai dengan dipancangkannya
inskripsi Sriwijaya di Kota Kapur yang berangka tahun 608 Saka (=686 Masehi),
yang isinya mengidentifikasikan dikuasainya wilayah ini oleh Sriwijaya.
Penguasaan Pulau Bangsa oleh Sriwijaya ini agaknya berkaitan dengan peranan
Selat Bangsa sebagai pintu gerbang selatan dari jalur pelayaran niaga di Asia
Tenggara pada waktu itu. Sejak dikuasainya Pulau Bangka oleh Sriwijaya pada
tahun 686 maka berakhirlah kekuasaan awal yang ada di Pulau Bangka.
B. Prasasti
Kota Kapur

Prasasti Kota Kapur adalah prasasti berupa
tiang batu bersurat yang ditemukan di pesisir barat Pulau Bangka, di sebuah
dusun kecil yang bernama "Kotakapur". Tulisan pada prasasti ini
ditulis dalam aksara Pallawa dan
menggunakan bahasa Melayu Kuna, serta merupakan salah satu dokumen tertulis tertua
berbahasa Melayu. Prasasti ini dilaporkan penemuannya oleh J.K. van der Meulen pada bulan Desember 1892, dan
merupakan prasasti pertama yang ditemukan mengenai Sriwijaya.
Orang pertama yang menganalisis prasasti ini adalah H. Kern, seorang
ahli epigrafi bangsa
Belanda yang bekerja pada Bataviaasch Genootschap di Batavia. Pada
mulanya ia menganggap "Śrīwijaya" adalah nama seorang raja. George Coedes-lah yang
kemudian berjasa mengungkapkan bahwa Śrīwijaya adalah nama sebuah kerajaan di
Sumatera pada abad ke-7 Masehi, suatu kerajaan yang kuat dan pernah menguasai
bagian barat Nusantara, Semenanjung Malaya, dan Thailand bagian
selatan. Hingga tahun 2012, prasasti Kota Kapur berada di Rijksmuseum (Museum
Kerajaan) Amsterdam, negeri Belanda dengan status dipinjamkan oleh Museum Nasional Indonesia.
C. Kehidupan
Kerajaan Kota Kapur
1. Kehidupan
Sosial
Aspek kehidupan sosial masyarakat
Kota Kapur sampai saat ini masih diteliti dan dikaji, sehingga belum ada
keterangan tentang kehidupan sosial masyarakat Kota Kapur.
2. Kehidupan
Ekonomi
Penguasaan Pulau Bangka oleh
Sriwijaya ini agaknya berkaitan dengan peranan Selat Bangsa sebagai pintu
gerbang selatan dari jalur pelayaran niaga di Asia Tenggara pada waktu itu.
Sejak dikuasainya Pulau Bangka oleh Sriwijaya pada tahun 686 maka berakhirlah
kekuasaan awal yang ada di Pulau Bangka.
3. Kehidupan
Agama
Di situs Kota Kapur selain telah
ditemukan sebuah inskripsi batu dari Kerajaan Sriwijaya yang berangka tahun 608
Saka (=686 Masehi), telah ditemukan pula peninggalan - peninggalan lain yaitu
di antaranya sebuah arca Wisnu dan sebuah arca Durga Mahisasuramardhini. Dari
peninggalan-peninggalan arkeologi tersebut nampaknya kekuasaan di Pulau Bangka
pada waktu itu bercorak Hindu-Waisnawa, seperti halnya di Kerajaan Tarumanegara
di Jawa Barat.
D. Penyebab
Runtuhnya Kerajaan Kota Kapur
Karena terjadinya perbedaan keyakinan didalam istana sehingga membuat keluarga
kerajaan terpecah menjadi dua bagian yang berbeda pendapat.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Setelah kami mengikuti Risalah kecil ini tentang
Riwayat Sejarah Kerajaan Tulang Bawang dan Kerajaan Kota Kapur, maka kami dapat
mengambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Raja Tulang
Bawang yang pertama diperkirakan MAULANO AJI/ MAULANA HAJI Tahun 623 M.
2. Raja Tulang Bawang
yang terakhir adalah MINAK PATI PEJURIT gelar MINAK KEMALA BUMI.
3. Adat
Imigrasi / Transmigrasi sudah ada sejak zamannya Kerajaan Tulang Bawang.
4. Demokrasi
dan Hak Azazi Manusia sudah ada sejak Zamannya Minak Kemala Bumi.
5. Prasasti
Kota Kapur adalah prasasti Śrīwijaya yang pertama kali ditemukan, jauh sebelum
Prasasti Kedukan Bukit yang baru ditemukan pada 29 November 1920, dan Prasasti
Talang Tuo yang ditemukan beberapa hari sebelumnya yaitu pada 17 November 1920.
6. Prasasti
Kota Kapur ini, beserta penemuan-penemuan arkeologi lainnya di daerah tersebut,
merupakan peninggalan masa Sriwijaya dan membuka wawasan baru tentang masa-masa
Hindu-Budha di masa itu. Prasasti ini juga membuka gambaran tentang corak
masyarakat yang hidup pada abad ke-6 dan abad ke-7 dengan latar belakang agama
Hindu.
DAFTAR PUSTAKA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar